Puisi Panjang: Cinta dan Kehidupan
Puisi Panjang: Cinta dan Kehidupan
---
# Puisi Panjang: Cinta dan Kehidupan
---
## VII. Cinta dalam Persahabatan
Ada cinta yang tak selalu bernama romansa,
ia hadir dalam tawa sederhana,
dalam percakapan panjang di tengah malam,
dalam bahu yang diam-diam menahan beratmu
saat dunia terasa tak lagi berpihak.
Persahabatan adalah cinta yang tidak menuntut kepemilikan,
tidak menagih janji,
namun selalu hadir saat kita terjatuh.
Aku pernah jatuh,
dan sahabatlah yang mengangkatku,
dengan kata-kata sederhana:
*"kau tidak sendirian."*
Betapa dalam makna cinta yang satu ini,
yang sering kita abaikan,
padahal ia adalah pilar yang menegakkan hidup kita
tanpa kita sadari.
---
## VIII. Cinta Orangtua dan Anak
Ada cinta yang lahir bahkan sebelum kita menghirup udara pertama.
Cinta yang menjelma dalam doa seorang ibu,
dalam kerja keras seorang ayah,
dalam pelukan yang tak pernah lelah terbuka,
meski kita sering salah,
meski kita sering lupa.
Cinta orangtua adalah akar yang merawat,
meski kita tumbuh menjauh,
meski ranting kita berbelok ke arah lain.
Dan cinta anak,
meski sering canggung,
meski sering terlambat diucapkan,
tetaplah nyala yang menyambung generasi,
agar kehidupan terus berputar dalam kasih.
Di sinilah aku sadar:
hidup adalah warisan cinta yang diteruskan,
dari satu hati ke hati berikutnya,
dari satu tangan ke tangan berikutnya.
---
## IX. Cinta pada Diri Sendiri
Lama aku belajar,
bahwa cinta tidak hanya untuk orang lain.
Ada cinta yang harus kutumbuhkan
kepada diriku sendiri.
Bukan ego, bukan kesombongan,
melainkan penerimaan:
bahwa aku manusia,
yang boleh lelah,
yang boleh salah,
namun tetap pantas dicintai.
Aku memandang cermin,
bukan untuk mencari sempurna,
tetapi untuk berkata:
*"aku cukup, aku layak, aku berharga."*
Cinta pada diri sendiri adalah fondasi,
sebab bagaimana aku bisa mencintai dunia,
jika aku sendiri hancur dari dalam?
---
## X. Cinta sebagai Energi Kehidupan
Cinta bukan sekadar kata,
bukan sekadar rasa di dada.
Cinta adalah energi,
yang menggerakkan bumi berputar,
yang membuat bunga mekar,
yang membuat manusia bertahan
di tengah luka, perang, dan kehilangan.
Lihatlah sejarah:
peradaban dibangun oleh cinta—
cinta pada pengetahuan,
cinta pada kebenaran,
cinta pada tanah air,
cinta pada sesama.
Lihatlah kehidupan sehari-hari:
seorang petani mencintai tanahnya,
seorang guru mencintai muridnya,
seorang seniman mencintai karyanya.
Tanpa cinta, semua hanya pekerjaan kosong.
Maka aku percaya,
cinta adalah bahasa semesta,
yang dipahami semua makhluk,
meski dengan cara berbeda.
---
## XI. Refleksi Akhir
Jika suatu hari nanti aku ditanya:
*"apa arti hidupmu?"*
maka aku akan menjawab:
*"aku pernah mencintai."*
Itu saja sudah cukup.
Sebab dari cinta aku belajar,
dari cinta aku tumbuh,
dari cinta aku terluka,
dan dari cinta pula aku sembuh.
Hidup tidak selalu panjang,
namun cinta menjadikannya luas.
Hidup tidak selalu mudah,
namun cinta membuatnya layak dijalani.
Maka biarlah aku terus mencintai,
dengan segala keterbatasan,
dengan segala keberanian,
sebab cinta adalah satu-satunya alasan
mengapa kita lahir
dan mengapa kita ingin meninggalkan jejak.
---
# Penutup
Cinta dan kehidupan,
seperti dua sisi mata uang,
tak bisa dipisahkan.
Satu memberi makna,
satu memberi jalan.
Dan aku,
sebagai pengembara di bumi yang fana ini,
hanya ingin dikenang sebagai seseorang
yang pernah mencintai sepenuh hati,
dan menjalani hidup dengan segenap jiwa.
---
Post a Comment for "Puisi Panjang: Cinta dan Kehidupan"